You can replace this text by going to "Layout" and then "Edit HTML" section. A welcome message will look lovely here.
RSS

spongebob

Rabu, 12 Agustus 2015

Kuatkan Aku

oh Allah, aku percaya apapun yang terjadi dalam hidupku ini adalah garis takdirMu. Aku pun percaya Engkau tak akan pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaMu dan aku percaya setiap kejadian pasti memiliki hikmah yang luar biasa. Aku tak pernah meminta lebih selain berilah aku kekuatan, berilah aku ketabahan, berilah aku kelapangan dada untuk menghadapi setiap cobaan yang datang menghampiri. Izinkan aku untuk terus berprasangka baik terhadapMu ya Rabb, izinkan aku untuk terus bersyukur dalam kondisi apapun. Terima kasih telah Engkau hadirkan teman dan sahabat luar biasa di hidupku ini, kalaupun saat ini mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing, aku akan coba pahami itu ya Rabb. Kuatkan aku dalam kesendirianku ini. Kuatkan aku, kuatkan aku, kuatkan aku.
Jadikanlah aku wanita tegar, wanita tangguh yang siap menghadapi kerasnya kehidupan. Izinkan aku untuk terus belajar dalam hal apapun ya Allah. Izinkan aku utnuk tetap bisa melihat hikmah dari setiap cobaan yang Engkau turunkan. Jika saat ini air mata ini harus menetes, aku ikhlas, aku rela. Tapi jika boleh aku meminta, ganti lah beratus-ratus tetes air mata ini dengan senyum bahagia suatu hari nanti ya Rabb. Aku percaya semua akan indah pada waktunya. Untuk itu, kuatkan, kuatkan, kuatkanlah hambaMu yang tak berdaya ini. Hingga tiba saatnya nanti semua yang telah Engkau rencanakan akan indah pada waktunya.


Kebumen, 13 Agustus 2015



Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selasa, 28 Oktober 2014

Ini Ceritaku

Hari ini, 28 Oktober 2014, tepat satu minggu setelah umurku menginjak angka 18, ada hal tak terduga terjadi di sekolah. Bertepatan dengan sumpah pemuda, sekolahku mengadakan upacara. Upacara tersebut dilanjutkan dengan serah terima jabatan organisasi. Cukup lama sih, kurang lebih 90 menit aku dan warga SMANSA yang lain dipanaskan di lapangan sekolah. Akibat upacara yang cukup lama ini, jatah untuk setiap jam pelajaran pun dikurangi. Yang biasanya 45 menitan disusut menjadi 35 menitan. Lumayan lah, pikirku dalam hati. Jam pertama pelajaran fisika, seperti biasa, Bu Rini datang tepat waktu dan langsung mengerjakan soal-soal. Tapi berhubung waktunya cuma 35 menit, mengerjakan soal belum selesai, bel udah berbunyi. Lanjut ke pelajaran sejarah, ternyata kosong. Berin sama Bangkit, temen kelas yang tadinya lagi ikut sertijab, belum juga mbalik ke kelas. Di jam pelajaran TIK barulah mereka kembali. Oh ya, pelajaran TIK pun kosong. Hari ini anak-anak kelas merasa nggak sekolah. Tiba di jam pelajaran terakhir, Kimia yang seharusnya presentasi ternyata kosong juga. Surga banget kan yaa hehe. Di sela-sela itu semua, seperti biasa, kelasku ada aja yang dibahas kalo pas pelajaran kosong. Pagelaran lah, pembentukan kelompok belajar lah, yang lain pun ada. Tiba-tiba Berin bilang "Nanti  jam setengah 2 kita semua ke kantin ya. Aku sama Bangkit mau nraktir makan, kan tadi abis sertijab". Aku merasa aneh. Sejak kapan sertijab dapet uang?Kenapa mereka ngajakin makan-makan?Em tapi mungkin mereka cuma pengin bersyukur karena udah purna tugas, ucapku. Tak ada yang aneh lagi bagiku karena aku telah mencoba berpikir realistis. Jam menunjukan pukul 13.30, artinya aku sama temen-temen harus pergi ke kantin.Maklum mau ditraktir, jadi ya semangat. Sesampainya di kantin, semua malah pada asyik bercanda sendiri. Bahkan yang katanya mau nraktir malah nggak tau pada mondar mandir sendiri. Tata yang udah buru-buru pengin pulang, terus nanya, jadi makan atau enggak. Tapi Bangkit menjawab dengan tenangnya, nanti dulu ya, Bu Mudah be lagi sholat. Nunggu. Aku yang sedari tadi bercanda sama temen-temen yang lain nggak peduli apa yang lagi dibahas disana. Cukup lama aku nunggu, entah apa yang sebenernya terjadi. Alasan nunggu bu Mudah yang lagi sholat lah, nunggu temen yang lagi di kopsis lah, semua memang masuk akal. Aku tetap tidak ada rasa curiga sama sekali. Tapi setelah semua kumpul, tiba-tiba Bangkit agak mencurigakan. Bisik-bisik sama temen-temen yang lain. Aku nggak tau apa-apa jadi aku cuma bisa diem. Oke lanjut, seperti biasa, kelasku narsis dimana-mana. Saat itu juga pada minta foto. Seperti biasa, kalo mau foto pasti berhitung, 1...2...3.... Hal itu dilakukan berulang-ulang. Sebenernya aku mulai curiga, tapi tetep cuma bisa diem. Dan bener aja di hitungan ketiga yang terakhir, dari arah selatan, Bangkit sang ketua kelas, membawa sebuah roti ulang tahun dengan lilin angka 18 diatasnya. Aku bingung, aku nggak tau mesti ngapain. Malu, seneng, kaget, semuanya jadi satu. Subhanalloh, aku nggak nyangka bakal dapet kejutan di hari ini. Anak-anak kelas emang super banget kalo suruh bikin rencana buat bikin kejutan. Pasti berhasil. Tiup lilin, sebelumnya make a wish. Doanya simple kok, yang pasti doa untuk kesuksesan anak INSTAGRAM tersebut disana. Setelah tiup lilin, lanjut dengan potong kue. Waktu mau motong kue pertama sih nggak ada apa-apa. Tapi pas potongan keduaaa byuuur seember air CUCIAN PIRING diguyur ke kepalaku. Oke fine aku basah semua sampai ujung kaki. Dingin?Ya iya lah! Tapi mau gimana lagi, aku nggak bawa ganti. Terpaksa pulang dengan keadaan basah kuyup. 20 menit di perjalanan menggunakan sepeda motor, cukup membuatku kedinginan. Belum lagi orang-orang di jalan yang melihatku dengan tatapan berbeda. "Ah bodo amat, yang penting aku harus cepet pulang." Ucapku dalam hati.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi. Pada intinya hari ini aku mandi gasik karena ulah anak-anak INSTAGRAM 12 IPA 6. Ulang tahun kapan, dikasih kejutannya kapan. Tapi di luar itu semua, aku tulus. Aku sangat berterima kasih sama semua anak-anak kelas. Terima kasih untuk hari ini, terima kasih untuk kejutannya, semoga kebersamaan ini akan terus ada. Sukses untuk kita semua.
Hari ini. 28 Oktober 2014 aku sadar bahwa Allah akan memberikan kebahagiaan pada hamba-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Allah itu adil. Allah tau kapan waktu terbaik untuk memberikan kebahagiaan kepada seorang hamba-Nya. Hari ini aku bahagia, hari yang tak pernah ku duga. Hari yang tak kan pernah ku lupa. Thanks to Allah, thanks to my friend, anak-anak INSTAGRAM 12 IPA 6, iloveyou so much.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sabtu, 25 Oktober 2014

Aku tak Sesempurna mereka

18 tahun lalu aku dilahirkan. Aku lahir dari keluarga yang amat sederhana. Bapak ibuku hanya seorang PNS yang memiliki 3 orang anak. Bapak ibuku harus menyekolahkan aku dan kakak-kakakku dengan biaya yang cukup besar. Tapi alhamdulillahnya bapak dan ibu tak pernah mengalami kesusahan biaya. Mungkin itu semua karena bapak dan ibu selama ini selalu hidup sederhana. Orang tuaku hebat. Ibuku orang yang kuat. Bapakku adalah seorang pekerja keras. Setidaknya itulah yang membuatku terus belajar agar kelak bisa menjadi orang sukses yang membahagiakan mereka. Usia 18 tahun, bagiku bukan lagi usia anak kecil. Aku sekarang duduk sebagai pelajar tingkat akhir yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswa. Merantau, meninggalkan keluarga dan semua teman-teman. Aku pikir sudah waktunya aku mulai berbakti pada kedua orang tua sebelum nantinya aku akan pergi ke luar kota. Tapi bagaimana bisa aku membantu orang tua sementara tugas dari sekolah tak kunjung ada habisnya. Lelah?PASTI. tapi tiap kali melihat bapak ibu yang telah berjuang keras untuk bisa menyekolahkanku, rasa lelah itu hilang. Aku harus belajar lebih keras lagi agar kelak bisa membahagiakan mereka.
18 tahun juga bukan usia yang dewasa. Aku masih labil. Labil pada semua hal. Di saat teman-temanku mulai menemukan kebahagiaan bersama orang-orang yang mereka sayang, aku masih saja sendirian. Bukan karena aku tidak ingin seperti mereka, tapi sampai saat ini belum ada sosok yang bisa menyayangiku dengan tulus. Allah belum juga mengirimkan seseorang yang nantinya akan menjagaku,menggantikan peran seorang bapak. Aku tak pernah menyalahkan Allah, aku lebih memilih untuk instropeksi diri sendiri. Setelah aku merenung, aku menemukan setitik jawaban kenapa Allah tak kunjung mengirimkan seseorang untukku. Lima tahun lalu aku selalu ditemani oleh sosok yang selalu ada untukku, aku terlalu asyik bersama mereka hingga aku banyak kehilangan waktu bersama keluarga. Bahkan waktu untuk memingat Allah pun sangat sedikit. Mungkin inilah salah satu alasan, Allah ingin aku sendirian agar aku bisa lebih dekat dengan keluarga,lebih dekat dengan-Nya. Tapi aku pun masih mencari apa alasan lain yang mungkin menjadi penyebabnya. Ketika aku melihat perempuan lain, aku bandingkan dengan diriku sendiri, aku memang tidak ada apa-apanya. Aku hanya anak perempuan biasa, tidak cantik, tidak terlalu agamis, tidak terlalu cerdas, tidak memiliki badan yang indah, dan bukan keturunan orang kaya. Semua hanya pas-pasan. Belum lagi tragedi kelas 8 lalu yang telah mematahkan tulang kananku. Semua semakin terasa menyedihkan. Apakah ini juga salah satu alasan kenapa tak ada pria yang ingin menyayangiku dengan tulus? Aku tak sesempurna mereka. Ya mungkin memang secara fisik,intellegent,dan ekonomi aku tak sesempurna mereka tapi setidaknya aku memiliki Allah Yang Maha Sempurna, keluarga yang sempurna, teman-teman yang sempurna yang akan selalu ada untuk menemani hari-hariku. Ketika rasa sepi itu muncul, aku hanya bisa terdiam dan membiarkan perasaan itu mengalir, toh nantinya rasa sepi itu akan hilang dengan sendirinya. Sudah 1 tahun lebih aku bertahan dengan perasaan yang seperti ini. Perasaan yang sangat sulit untuk dijelaskan. Tapi setidaknya dalam kesendirian ini, aku banyak instropeksi diri. Semoga suatu hari nanti akan ada seseorang yang mau menyayangi dan mencintai aku dengan apa adanya, dengan segala kekurangan yang aku miliki. Sekali lagi, aku hanya wanita biasa, aku tak sesempurna mereka.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jumat, 24 Oktober 2014

Aku "LUPA" bagaimana caranya menangis

Dua tahun lalu, tepat saat aku baru saja mengakhiri hubungan dengan seseorang, aku merasa bahwa tawaku tak akan bisa hadir lagi. Memang sih kedengerannya "lebay" tapi ya memang itu yang aku rasakan. Hubungan yang udah terjalin selama dua tahun lebih terpaksa kandas di tengah jalan. Penyebabnya banyak. Bukan hanya masalah restu orang tua, tapi saat itu pula aku merasa bahwa selama dua tahun itu aku hanya berjuang sendirian. Aku merasa pengorbananku sia-sia. Aku selalu salah. Belum lagi karena LDR. Semua jadi terasa sangat rumit. Masalah kecil jadi gede,dan buat menyelesaikan satu masalah itu susah. Harus berantem dulu, aku nangis dulu, baru semuanya bisa "clear". Dua tahun lebih aku berada pada posisi itu, sampai akhirnya aku sadar bahwa aku harus mengakhiri hubunganku dengan dia. Bukan karena udah nggak cinta, tapi aku udah cukup lelah buat menghadapi dia yang nggak pernah berubah. Awal-awal putus emang berat sih, hari-hariku berubah drastis. Yang tadinya hape selalu berdering setiap menit, tiba-tiba senyap seharian, yang tadinya ada orang yang selalu perhatian,tiba-tiba menghilang. Tapi setelah berpikir panjang, mungkin lebih baik aku kesepian daripada aku harus selalu menangis hanya karena satu orang yang belum tentu kelak akan menjadi jodohku.

Setidaknya kalimat itulah yang menjadi penyemangat untuk aku melanjutkan hari-hariku ke depan. Aku nggak mau terpuruk cuma karena satu orang yang sebenernya cuma bisa bikin aku terluka. Aku harus kuat,aku harus tegar. Aku masih memiliki keluarga dan sahabat yang ingin melihatku bahagia. Oleh karena itu,meskipun suasana hati lagi nggak "karuan" aku tetep belajar buat tersenyum pada semua orang. Tak sampai pada masalah itu, di ujung tahun 2013 aku pun harus terlibat dalam sebuah masalah. Bukan karena cowok yang tadi. Ini udah ganti, tapi masalahnya lebih rumit dari sekedar cinta. Aku dianggap PHO sama temen kelas waktu itu. Gimana nggak nangis?PHO itu singkatan dari Perusak Hubungan Orang. Saat itu aku merasa bahwa aku tidak pernah membuat hubungan orang lain rusak. Aku akan bersahabat dengan siapa saja yang bisa membuatku nyaman. Terlepas dari masalah dia udah punya gebetan atau belum, sahabat dan gebetan itu udah beda ruang lingkupnya. Itu pikirku. Tapi ternyata pikir teman-temanku yang lain nggak kayak gitu, pada intinya aku ini SALAH. Aku nggak tau apa-apa,tiba-tiba divonis bahwa aku bersalah. Gimana rasanya?Udah pasti sakit. Air mataku tumpah disana, entah berapa kali aku menangis karena masalah itu, masalah yang amat rumit untuk dijelaskan. Bahkan aku merasa bahwa masalah itu belum juga berakhir sampai saat ini.
Bulan demi bulan aku lewati masa itu, hati yang kecewa, marah, dan bertanya-tanya selalu menemani hari-hariku. Aku tak bisa mengungkapkan itu semua,kecuali pada selembar kertas ataupun pada tulisan di laptop ini. Aku sering bertanya, kapan masa berat itu akan segera pergi dari hidupku. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis, layaknya perempuan, aku pun ingin merasakan bahagia. Sampai akhirnya aku mendapat kelas baru dan teman-teman baru. Di sanalah aku mulai bisa menemukan kebahagiaanku kembali. Setidaknya mereka tidak pernah berniat untuk membuatku menangis. Selalu ada tawa di kelas sana. Dari situlah aku belajar, bahwa Allah itu adil. Akan ada bahagia setelah air mata. Itulah yang aku rasakan saat ini. Sudah hampir 4 bulan lebih aku tidak menangis, kecuali menangis saat bercerita pada Allah. Beban masa laluku seolah-olah sirna. Meskipun saat malam tiba, bayangan itu muncul kembali, tapi setidaknya saat pagi hingga petang tiba aku selalu bisa bahagia. Jika memang ini yang terbaik untukku saat ini, biarlah aku berjalan sendiri tanpa seseorang yang menemani. Kalaupun nantinya akan ada seseorang yang ingin menetap di hati, setidaknya dia harus berusaha untuk tidak membuatku menangis. Kecuali menangis karena bahagia. Saat ini aku telah lupa bagaimana caranya menangis, semoga nggak akan ada orang yang berniat untuk membuat tangisku kembali. Aamiin

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kamis, 23 Oktober 2014

Aku tak Sekuat yang Kalian Kira

Senyumnya, tawanya, tutur katanya yang selalu mencerminkan bahwa ia bahagia seolah-olah telah membutakan mata teman-temannya bahwa sesungguhnya ada air mata di dasar hatinya.Ia dikenal sebagai sosok yang senang bergaul dan senang bercanda bersama teman-temannya. Bertahun-tahun ia hidup nyaman bersama teman-teman dekatnya. Ia selalu bisa terlihat bahagia. Saat ini ia duduk di bangku kelas XII SMA. Usianya 18 tahun. Dengan segala pengalamannya, ia tumbuh menjadi seorang wanita yang tangguh setiap kali ia mendapatkan sebuah masalah. Prinsipnya tidak ingin merepotkan orang lain, jadi selagi ia masih bisa berusaha, ia tak akan bercerita apapun kepada sahabat-sahabatnya bahwa ia sedang terlibat dalam sebuah masalah. Bertahun-tahun ia dihadapkan pada berbagai persoalan, masalah persahabat dan masalah percintaan tak pernah lepas dari hidupnya. Layaknya remaja pada umumnya, ia pun labil. Sering terbawa arus teman-temannya. Layaknya seorang wanita, ia pun memiliki titik lemah. Titik lemah yang ia rasakan adalah ketika malam mulai tiba, suasana hening, suasana sepi yang selalu membawa lamunannya pada masa lalu. Masa-masa sulit yang pernah ia lewati. Masa-masa yang tak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.
Cinta segitiga adalah persoalan yang selalu hinggap di hidupnya. Ia selalu salah dalam mencintai seseorang. Ia selalu mencintai seseorang yang sudah dekat dengan perempuan lain. Tapi ia pun tak pernah mengerti kenapa semua itu terjadi. Cinta datang dengan sendirinya, ia tak bisa mengatur kapan ia jatuh cinta. Berulang kali ia terjebak, berulang kali dia harus memiliki konflik dengan teman-temannya hanya karena cinta. Lelah sudah pasti ia rasakan, tapi mau bagaimana lagi, mungkin inilah jalan Tuhan yang terbaik. Jalan yang akan membuatnya menjadi sosok perempuan dewasa.
Layaknya seorang wanita, ia pun ingin sekali merasakan cinta yang tulus. Bukan cinta karena rupa dan bukan cinta karena harta. Setiap kali ia melihat teman-temannya bisa berbagi cerita dengan orang yang mereka sayang, ia hanya bisa terdiam. Bukan iri atau benci. Ia hanya sedang berpikir,kapan ia bisa seperti itu?Bahagia seperti teman-temannya yang lain. Sekuat-kuatnya ia dalam menghadapi masalah, ada saatnya juga ia membutuhkan tempat untuk berbagi. Tempat untuk menyadarkan tubuhnya sejenak agar ia tak terlalu lelah untuk menghadapi kehidupan ini. Kehidupan yang semakin keras ini membuatnya semakin sering menahan beban berat dihatinya. Sekali lagi, bukan karena ia tidak memiliki teman untuk bercerita, ia hanya tidak ingin merepotkan orang-orang di sekelilingnya.
Allah tau apa yang terbaik. Allah akan memberikan apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya, bukan apa yang diinginkan oleh hamba-Nya. Itulah kata-kata yang selalu keluar dari mulutnya untuk menjadi penyemangat bagi dirinya sendiri. Saat ini, ia tak meminta banyak. Ia hanya ingin membuat orang tuanya bangga, ia ingin melihat orang-orang di sekelilingnya tersenyum bahagia, dengan itu ia akan ikut bahagia tanpa harus melihat bagaimana jalan hidupnya. Setidaknya ia memiliki mimpi, suatu hari nanti ia akan jatuh cinta dan akan dicintai oleh orang yang bisa menerima ia dengan apa adanya, menyayangi keluarganya, dan bersedia menjadi imamnya. Entah kapan mimpi itu akan terwujud, waktu yang akan menjawab dan Allah yang akan menentukan. Saat ini ia hanya bisa belajar untuk memantaskan diri agar bisa dicintai oleh jodohnya kelak. "Pasanganmu adalah cerminan dirimu sendiri".  Setidaknya itulah kalimat yang selalu terngiang dalam telinganya. Ia hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Allah memberinya umur panjang agar kelak ia bisa membahagiakan kedua orang tuanya, keluarganya, dan sahabat-sahabatnya. Dan semoga Allah mengizinkan ia untuk bahagia dalam hidupnya sebelum akhirnya ia akan menutup mata.

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wanita Paruh Baya

Wanita paruh baya itu, aku tak tau persis berapa umurnya. Tapi aku bisa menebak,kira-kira sekitar 70 tahun. Wanita itu biasa aku sebut "uwa". Beliaulah yang senantiasa menjaga rumah mbahku dan rumahku, bahkan sejak ibuku dulu masih balita. Uwa Waginah namanya. Beliaulah yang paling sering aku temui dirumah. Mengapa demikian?Karena uwa selalu ada dirumah.Setiap bapak dan ibu sedang pergi, aku cuma bareng sama uwa dirumah.Uwa bukan cuma sekedar pembantu di rumahku, tapi beliau sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Waktu kecil dulu, aku sering sekali diingatkan untuk makan,untuk sholat, dan untuk belajar. Tapi waktu itu pula aku sering bertanya, kenapa uwa nggak pernah sholat?Kenapa uwa nggak bisa baca tulisan?Kenapa uwa bertingkah seolah-olah orang tua yang tidak berwawasan sama sekali?
Setelah aku beranjak dewasa, lama-kelamaan ibu mulai menceritakan semua tentang uwa. Ternyata uwa memang tidak bersekolah sejak dulu, uwa juga nggak bisa sholat karena sejak kecil beliau sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Bahkan sekarang beliau hidup sebatang kara, semua saudaranya telah meninggal dunia. Aku miris mendengarnya. Aku ingin sekali membantu uwa untuk bisa sholat. Meskipun setiap harinya aku sering marah-marah pada beliau, aku sering membantah saat beliau mengatakan sesuatu, tapi sesungguhnya aku sangat menghormati dan menyayangi beliau seperti halnya aku menyayangi eyang. Apalagi aku tau bahwa beliaulah yang selalu menemaniku di rumah setiap hari.
Aku sering bilang pada ibu, kenapa dari dulu uwa nggak diajarin buat membaca?buat sholat?Tapi ibu selalu menjawab dengan kalimat "Sampun angel,uwa sampun sepuh.Sampun kebacut,keluargane nggeh mboten wonten sing open kalih uwa." Mendengar jawaban ibu yang seperti itu, aku semakin miris mendengarnya.Apa iya uwa nggak pernah dapet perhatian lebih dari keluarganya?Kasian sekali uwa. Bahkan sampai setua ini, uwa tak kunjung memiliki suami. Aku sering berpikir bagaimana jika uwa nanti meninggal?Akankah beliau meninggal dirumahku?Siapakah yang bertanggung jawab atas jenazahnya kelak?Bagaimana penilaian Allah terhadap uwa?Uwa memang tak pernah sholat dan melaksanakan ibadah lain,tapi jika bulan ramadhan tiba,uwa selalu melaksanakan puasa satu bulan penuh. Aku sempat berpikir ingin mengajarkan uwa untuk sholat, tapi aku batalkan niat itu. Karena bagiku,aku saja masih belum benar saat melakukan ibadah, masa iya aku ingin mengajarkan pada orang lain. Aku justru takut jika aku mengajari uwa,aku malah akan membuat beliau tersesat. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya masalah uwa ini, jujur saja sebenarnya aku kasian melihat uwa yang telah hidup sebatang kara dan tak tau apapun tentang ibadah. Beliau sudah lanjut usia tapi beliau masih buta tentang kehidupan akhirat. Aku cuma bisa berdoa,uwa itu orang baik,semoga Allah memberi mukjizat pada beliau di akhirat nanti.Aamiin

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Minggu, 19 Oktober 2014

Selamat Tinggal Angka 17

Hitungan jam,ya sebentar lagi aku akan meninggalkan angka 17. 17 tahun maksudnya. Angka yang katanya menjadi angka spesial bagi usia seseorang. Nyatanya, aku menikmati angka 17 selama satu tahun. Tapi bagiku, semua biasa-biasa saja, malah justru pada angka inilah aku mengalami banyak cobaan. Satu tahun yang lalu, saat aku mengira semua akan menjadi indah tetapi justru malah sebaliknya. Satu-satunya yang berkesan indah bagiku hanyalah satu,saat aku mendapatkan sebuah SIM. karena setelah itu, bapak dan ibu selalu mengizinkan aku pergi kemanapun yang aku mau, tapi tetap dengan satu syarat, sebelum maghrib tiba, aku sudah HARUS berada di rumah. Selain itu, semua biasa-biasa saja. Aku berusia 17 tahun saat aku duduk di bangku kelas 11, sebuah masa yang seharusnya menjadi masa paling indah di masa SMA. Tapi bagiku,itulah masa tersulit yang harus aku lewati. Bagaimana tidak,di masa itu aku mendapat sebuah cobaan. Aku dikucilkan oleh teman-temanku hanya karena aku bersahabat dekat dengan beberapa orang dan aku selalu bermain bersama mereka tanpa mengajak anak-anak kelas. Bukannya nggak ngajak sih, udah diajak berulang kali tapi mereka tak merespon juga, giliran aku main, mereka marah-marah nggak jelas. Sekiranya itulah gambaran bagaimana perasaanku saat aku duduk di bangku kelas 11, saat aku berusia 17 tahun. Hampir satu tahun aku selalu merasa disalahkan, aku tidak memiliki kebebasan untuk 'bergerak' pada masa itu. Keadaan seolah-olah memaksaku untuk diam,tidak melakukan apapun selain belajar. Aku seperti kehilangan jati diriku. Belum lagi masalah CINTA, aku sampai sakit karena memikirkannya. Memang saat itu aku nggak sendirian, aku punya sahabat-sahabat yang selalu ada saat aku membutuhkan mereka. Tapi,aku tidak ingin merepotkan banyak orang,aku ini sudah bukan anak kecil yang harus selalu 'dituntun'. Saat itu aku sudah berumur 17 tahun, aku ingin belajar untuk menyelesaikan semua masalahku dengan tanganku sendiri. Berbulan-bulan aku menyimpan rasa sakit hatiku, privasiku di korek-korek setiap hari oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku cuma bisa bersabar karena aku tak ingin membuat suasana kelas menjadi lebih rumit. Masa studytour pun tiba. Aku yang seharusnya bahagia bersama teman-temanku di Pulau Dewata malah justru menangis. Kenapa? Ada masalah pribadi yang membuatku tak bisa menahan air mata, pada intinya masalah itu masih berhubungan dengan teman-temanku yang selalu ingin mencari tau apa yang aku perbuat. Sampai akhir kelas 11, masalah itupun tak terselesaikan. Bukannya aku tidak ingin menyelesaikannya, tapi aku hanya tidak ingin menangis untuk kesekian kalinya hanya untuk hal-hal kecil semacam itu, aku sudah terlalu lelah dengan masalah yang selalu datang saat aku berusia 17.

Hari ini,beberapa jam sebelum aku meninggalkan angka 17. Aku ingin berterima kasih pada bapak dan ibu yang slalu membimbingku agar tetap berada di jalan yang benar, terima kasih sahabatku yang telah menemaniku melewati masa-masa sulit di masa lalu. Terima kasih 'kamu' yang pernah mengisi hari-hariku meskipun kini sudah tak bisa lagi, terima kasih TEMAN-TEMAN kelas 11, karena kalian, sekarang aku menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Terima kasih telah mengajarkanku arti pertemanan yang sesungguhnya. Terima kasih untuk semua pelajaran dan pengalamannya. Aku tak akan pernah lupa. entah itu tangis atau bahagia, setidaknya kalian pernah menjadi sejarah dalam hidupku. Terima kasih banyak.

Kini aku siap membuka lembaran baru, dengan usia baru, dengan teman-teman baru, dengan semangat baru, dan tetap dengan restu orang tua yang selalu mengiringi langkahku. Terima kasih teman-teman INSTAGRAM 12 IPA 6, telah membuat tawa bahagiaku kembali. Bersama kalian aku bisa menjadi diriku sendiri, bersama kalian aku selalu tertawa, semoga akan terus seperti ini sampai kesuksesan ada di genggaman kita.

Terima kasih ya Allah, Kau telah memberikan nafas sampai saat ini, Kau telah mengizinkan aku untuk mengenal lebih dalam tentang kehidupan dunia. Terima kasih telah mengirimkan orang-orang hebat di sekelilingku, orang-orang yang tak pernah lelah mendengar keluh kesahku, orang-orang yang selalu berusaha membuat aku tersenyum bahagia. Di usia baru nanti, aku ingin menjadi pribadi baru. Pribadi yang semakin dekat dan cinta pada Allah, pribadi yang semakin menghormati orang tua, pribadi yang semakin menyayangi keluarga, dan pribadi yang selalu bermanfaat bagi semua.

Terima kasih angka 17, kau telah mengajarkanku berbagai makna kehidupan, kau telah mengajarkanku bagaimana cara menyelesaikan masalah kehidupan, 17 tahun yang penuh makna kehidupan. Terima kasih :)

Read Comments
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS