Dua tahun lalu, tepat saat aku baru saja mengakhiri hubungan dengan seseorang, aku merasa bahwa tawaku tak akan bisa hadir lagi. Memang sih kedengerannya "lebay" tapi ya memang itu yang aku rasakan. Hubungan yang udah terjalin selama dua tahun lebih terpaksa kandas di tengah jalan. Penyebabnya banyak. Bukan hanya masalah restu orang tua, tapi saat itu pula aku merasa bahwa selama dua tahun itu aku hanya berjuang sendirian. Aku merasa pengorbananku sia-sia. Aku selalu salah. Belum lagi karena LDR. Semua jadi terasa sangat rumit. Masalah kecil jadi gede,dan buat menyelesaikan satu masalah itu susah. Harus berantem dulu, aku nangis dulu, baru semuanya bisa "clear". Dua tahun lebih aku berada pada posisi itu, sampai akhirnya aku sadar bahwa aku harus mengakhiri hubunganku dengan dia. Bukan karena udah nggak cinta, tapi aku udah cukup lelah buat menghadapi dia yang nggak pernah berubah. Awal-awal putus emang berat sih, hari-hariku berubah drastis. Yang tadinya hape selalu berdering setiap menit, tiba-tiba senyap seharian, yang tadinya ada orang yang selalu perhatian,tiba-tiba menghilang. Tapi setelah berpikir panjang, mungkin lebih baik aku kesepian daripada aku harus selalu menangis hanya karena satu orang yang belum tentu kelak akan menjadi jodohku.
Bulan demi bulan aku lewati masa itu, hati yang kecewa, marah, dan bertanya-tanya selalu menemani hari-hariku. Aku tak bisa mengungkapkan itu semua,kecuali pada selembar kertas ataupun pada tulisan di laptop ini. Aku sering bertanya, kapan masa berat itu akan segera pergi dari hidupku. Aku sudah terlalu lelah untuk menangis, layaknya perempuan, aku pun ingin merasakan bahagia. Sampai akhirnya aku mendapat kelas baru dan teman-teman baru. Di sanalah aku mulai bisa menemukan kebahagiaanku kembali. Setidaknya mereka tidak pernah berniat untuk membuatku menangis. Selalu ada tawa di kelas sana. Dari situlah aku belajar, bahwa Allah itu adil. Akan ada bahagia setelah air mata. Itulah yang aku rasakan saat ini. Sudah hampir 4 bulan lebih aku tidak menangis, kecuali menangis saat bercerita pada Allah. Beban masa laluku seolah-olah sirna. Meskipun saat malam tiba, bayangan itu muncul kembali, tapi setidaknya saat pagi hingga petang tiba aku selalu bisa bahagia. Jika memang ini yang terbaik untukku saat ini, biarlah aku berjalan sendiri tanpa seseorang yang menemani. Kalaupun nantinya akan ada seseorang yang ingin menetap di hati, setidaknya dia harus berusaha untuk tidak membuatku menangis. Kecuali menangis karena bahagia. Saat ini aku telah lupa bagaimana caranya menangis, semoga nggak akan ada orang yang berniat untuk membuat tangisku kembali. Aamiin








0 komentar:
Posting Komentar